Sabtu, 04 Oktober 2014

Temperamen Anda Dapat Diubah



Nama              : Hendrikus H. R. Dao
Semester         : 1 (Satu)
Mata Kuliah  : Psikologi Umum                                             
Tugas              : Laporan Baca
Dosen              : Thina M. Woenardi M. Th. M.Pd
Judul Buku    : Teperamen Anda Dapat Diubah
Pengarang      : Tim Lahaye
Setelah penulis membaca secara keseluruhan isi buku ini, maka penulis dapat mengetahui apa yang menjadi dari latar belakang pengarang menulis buku ini. Buku “TEMPRAMEN ANDA DAPAT DI UBAH” ini bukan merupakan buku petunjuk untuk dipraktekan, tetapi merupakan penjelasan tentang bagaimana Allah Roh Kudus dapat memperkuat serta mengubah kepribadian dan sifat-sifat seseorang. Dan juga bagaimana temperamen dapat mempengaruhi sesorang dan bagaimana Roh Kudus dapat menolong dan mengatasi kelemahan-kelemahan yang dimiliki seseorang. Orang-orang yang mempelajari tentang temperamen manusia hampir semuanya mengetahui adanya tempramen-tempramen dasar tertentu. Setiap tempramen ditandai dengan kelemahan dan kebaikan masing-masing. Buku ini dapat menolong pembaca untuk menemukan tipe temperamen yang di milikinya dan dapat mempelajari langkah-langkah yang diperlukan untuk bertumbuh menuju kedewasaan.
Hal penting yang penulis dapatkan dalam buku ini adalah pengertian temperamen. Istilah temperamen berasal dari bahasa Latin "temperamentum" yang berarti paduan yang cocok. Temperamen merupakan suatu kekuatan yang tidak nampak yang mendasari tingkah laku manusia. Selain itu temperamen juga merupakan gabungan dari ciri-ciri pembawaan yang secara tidak sadar mempengaruhi tingkah laku seseorang. Ciri-ciri ini diturunkan berdasarkan kebangsaan, ras, seks  dan faktor- faktor keturunan dan diteruskan oleh gen (plasma pembawa sifat). Beberapa ahli ilmu jiwa mengemukakan bahwa kita lebih banyak mendapat gen kakek dan nenek kita dari pada gen orang tua kita. Hal ini nyata pada beberapa anak yang lebih mirip dengan kakek atau nenek dari pada dengan kedua orang tuanya. Ciri-ciri temperamen itu tidak dapat ditentukan lebih dahulu, sama seperti mata, rambut dan ukuran tubuh. Hal ini temperamen membentuk sifat-sifat yang baik dan juga kelemahan-kelemahan dalam diri seseorang.
Watak seseorang menyatakan keadaan yang sebenarnya. Barangkali inilah yang disebut sebagai "manusia batiniah yang tersembunyi". Watak adalah hasil dari temperamen pembawaan seseorang yang dibentuk oleh pendidikan pada masa kanak-kanak, pendidikan di sekolah, sikap dasar, agama, prinsip-prinsip dan motivasi. Kadang-kadang watak itu disebut sebagai "jiwa" manusia yang terdiri atas pikiran, emosi dan kehendak.
Sedangkan kepribadian, menurut La Haye, adalah ekspresi yang keluar dari diri kita, yang mungkin sama dengan watak kita atau mungkin juga tidak, bergantung pada ketulusan kita.
Di dalam bidang kedokteran pada zaman Yunani kuno, Hippocrates telah melakukan suatu usaha penelitian di dalam tipologi kepribadian. Ia menyimpulkan bahwa temperamen tergolong dalam empat bagian (darah, flegma, empedu hitam atau melancholy, empedu kuning atau choler).
Sering kali kepribadian itu merupakan suatu topeng yang baik dari watak yang buruk atau yang lemah. Banyak orang pada masa bertindak berdasarkan apa yang menurut pikirannya patut dilakukan, bukan berdasarkan keadaan dirinya yang sebenarnya. Inilah rumus dari kekacauan mental dan rohani. Hal ini terjadi bila seseorang mengikuti rumus-rumus manusia tentang tingkah laku yang baik itu, maka akibatnya ialah kekacauan mental dan rohani.                       
Tipe Kepribadian
Perbedaan kepribadian atau tipe-tipe kepribadian yang melekat pada setiap orang telah menarik perhatian para ahli sejak dahulu kala. Sebenarnya penjelasan Alkitab mengenai tipe-tipe kepribadian ini telah ada jauh sebelum penelitian ilmiah. Alkitab menjelaskan tentang perbedaan antara pria dan wanita yang merupakan perbedaan tipe kepribadian yang sangat jelas. Perkembangan selanjutnya memberikan kepada kita suatu penguraian yang lebih terperinci mengenai tipe-tipe kepribadian orang.
Di dalam bidang kedokteran pada zaman Yunani kuno, Hippocrates telah melakukan suatu usaha penelitian di dalam tipologi kepribadian. Ia menyimpulkan bahwa temperamen (darah, flegma, empedu hitam, empedu kuning) manusia diciptakan dengan temperanen yang unik, beberapa ahli mengelompokkan temperamen menjadi empat, yaitu sanguin, koterik, plagmatis, dan malankolis. Manusia juga memiliki sifat-sifat yang beragam. Ada yang introvert, ekstrover, aktif, pasif, cenderung pemarah dan ada juga cenderung pendiam. Temperamen bersumber dari kepribadian kita yang disebut "di bawah sadar", bagian yang tidak dapat kita selami dengan akal budi dan kurang dapat dikuasai oleh kehendak. Temperamen bekerja secara otomatis dan selalu memberi kesan-kesan dalam kehidupan jiwa atas apa yang diterimanya dari lingkungan. Namun demikian, kita tetap bisa mengambil keputusan untuk mengubah atau melepaskan diri kita dari batasan-batasan temperamen. Asalkan ada kemauan untuk intropeksi diri dan melakuka perubahan kearah yang benar, manusia akan lebih secara sifat, temperamen dan karakter apabila menyerahkan diri kepada Tuhan.
Temperamen yang di penuhi dengan roh kudus adalah temperamen yang memiliki Sembilan buah roh, sehingga tidak memiliki kelemahan. Hal inilah yang diinginkan oleh Allah, dan Sembilan buah roh ini dapat kita lihat dalam diri Tuhan Yesus dan hanya Dia saja yang sanggup memilikinya. Selain itu juga hidup yang  di penuhi dengan Roh Kudus adalah selalu menguji diri sendiri (kis. 20:28 dan 1 kor. 11:28), mengakui segala dosa yang kita lakukan (1 yoh. 1:9), selalu serahkan diri kepada Tuhan (Rom. 6:11-13), meminta tuntutan Roh Kudus (luk. 11:13), percaya bahwa kita di penuhi dengan Roh Kudus dan selalu mengucap syukur kepada Tuhan atas kepenuhan Roh Kudus (Rom. 14:23 dan 1 tes. 5:18). Namun dari semuanya ini ada juga yang melenyapkan atau memadamkan Roh Kudus yang ada dalam dirinya yaitu dengan adanya ketakutan. Ketakutan memang merupakan hal yang umum, dimana Adam dan Hawa sendiri takut ketika mendengar bunyi langkah Tuhan yang berjalan di dalam taman Eden waktu itu. Yang menjadi penyebab ketakutan adalah: (1) karena cirri-ciri temperamen, dimana temperamen melancholy dan phlegmatic cenderung ragu-ragu dan takut, (2) pengalaman masa kanak-kanak, karena di masa kecil selalu member perlidungan yang berlebihan dan oranh tua selalu membentak anak-anak atau mendominasi anak-anak, (3) telah mengalami pengalaman yang menggoncangkan jiwa, (4) selalu berpikir negative, dan lain sebagainya.
 Temperamen Sanguin: temperamen yang dipengaruhi cairan darah yang bersifat kaya, hangat, dan hidup atau tipe yang meluap-luap. Temperamen Melankolis (Melaina Chole, Yunani):  temperamen yang dipengaruhi cairan empedu hitam. Oleh karenanya, temperamen ini bersifat gelap dan murung atau tipe patah hati. Temperamen Kolerik (Chole, Yunani): temperamen yang dipengaruhi cairan empedu kuning dan bersifat lekas marah dan ganas atau tipe gerak cepat. Temperamen Flegmatis (Phlegma: Lendir, Yunani): temperamen yang bersifat dingin dan lamban.
Dari keseluruhan jenis-jenis temperamen di atas, penulis dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing temperamen, adapun kekelemahan-kelemahannya yang di simpulkan oleh Dr. Hallesby seperti: (1)sanguine menyukai orang-orang dan kemudian melupakannya, (2) melancholy merasa kesa dengan orang-orang dan tetap membiarkan mereka berbuat jahat, (3) choleric memperalat oaring-orang untuk untuk kepentingannya sendiri dan tidak memperdulikan mereka, dan (4) phlegmatic menyelidiki orang-orang dengan sikap acuh seolah-olah sombong.
Dari buku ini tidak hanya kelemahan, namun ada juga kelebihannya, yaitu dimana kita tahu bahwa memiliki temperamen apa atau tipe temperamen yang mana. Sehingga buku ini sangat bermanfaat bagi siapa saja yang ingin mengetahui tipe temperamen yang dimilikinya atu karakter dan sifatnya. Dan bagaimana Allah Roh Kudus dapat memperkuat serta mengubah kepribadian dan sifat-sifat seseorang.
Petunjuk-petunjuk untuk pembimbing rohani, dan bagaimana mendisiplin seseorang sesuai dengan temperamennya yang menonjol. Sehingga secara keseluruhan penulis dapat menyimpulkan bahwa temperamen seseorang akan berubah dalam batas-batas tertentu di dalam setiap jangka hidupnya. Meski demikian, temperamen yang diwarisinya itu tidak akan lenyap secara total. Tuhan menciptakan manusia dengan temperamen yang berbeda-beda agar manusia bisa saling melengkapi, menolong, dan mengimbangi. Di dalam Kristus temperamen kita juga akan terus disempurnakan bagi kemuliaan Allah. Hal ini menjelaskan bahwa temperamen dapat di ubah, karena temperamrn itu bersifat lama. Sehingga orang yang yang mau menerima Yesus di dalam hidupnya, ia harus mulai dengan hidup yang baru. Seperti firman Tuhan mengatakan “siapa yang adadi dalam Kristus, maka ia salah ciptaan baru” 2 korintus 7:17.





1 komentar: