Nama :
Hendrikus H. R. Dao
Semester :
1 (Satu)
Mata Kuliah : Psikologi Umum
Tugas :
Laporan Baca
Dosen : Thina M. Woenardi M. Th. M.Pd
Judul Buku : Teperamen Anda Dapat Diubah
Pengarang : Tim Lahaye
Setelah
penulis membaca secara keseluruhan isi buku ini, maka penulis dapat mengetahui
apa yang menjadi dari latar belakang pengarang menulis buku ini. Buku “TEMPRAMEN
ANDA DAPAT DI UBAH” ini bukan merupakan buku petunjuk untuk dipraktekan, tetapi
merupakan penjelasan tentang bagaimana Allah Roh Kudus dapat memperkuat serta
mengubah kepribadian dan sifat-sifat seseorang. Dan juga bagaimana temperamen
dapat mempengaruhi sesorang dan bagaimana Roh Kudus dapat menolong dan
mengatasi kelemahan-kelemahan yang dimiliki seseorang. Orang-orang yang
mempelajari tentang temperamen manusia hampir semuanya mengetahui adanya
tempramen-tempramen dasar tertentu. Setiap tempramen ditandai dengan kelemahan
dan kebaikan masing-masing. Buku ini dapat menolong pembaca untuk menemukan
tipe temperamen yang di milikinya dan dapat mempelajari langkah-langkah yang
diperlukan untuk bertumbuh menuju kedewasaan.
Hal
penting yang penulis dapatkan dalam buku ini adalah pengertian temperamen.
Istilah temperamen berasal dari bahasa Latin "temperamentum" yang
berarti paduan yang cocok. Temperamen merupakan suatu kekuatan yang tidak nampak yang mendasari tingkah laku manusia. Selain itu temperamen juga
merupakan gabungan dari ciri-ciri pembawaan yang secara tidak sadar mempengaruhi
tingkah laku seseorang. Ciri-ciri ini diturunkan berdasarkan kebangsaan, ras,
seks dan faktor- faktor keturunan dan diteruskan
oleh gen (plasma pembawa sifat). Beberapa ahli ilmu jiwa mengemukakan bahwa
kita lebih banyak mendapat gen kakek dan nenek kita dari pada gen orang tua
kita. Hal ini nyata pada beberapa anak yang lebih mirip dengan kakek atau nenek
dari pada dengan kedua orang tuanya. Ciri-ciri temperamen itu tidak dapat
ditentukan lebih dahulu, sama seperti mata, rambut dan ukuran tubuh. Hal ini
temperamen membentuk sifat-sifat yang baik dan juga kelemahan-kelemahan dalam
diri seseorang.
Watak
seseorang menyatakan keadaan yang sebenarnya. Barangkali inilah yang disebut
sebagai "manusia batiniah yang tersembunyi". Watak adalah hasil dari
temperamen pembawaan seseorang yang dibentuk oleh pendidikan pada masa
kanak-kanak, pendidikan di sekolah, sikap dasar, agama, prinsip-prinsip dan
motivasi. Kadang-kadang watak itu disebut sebagai "jiwa" manusia yang
terdiri atas pikiran, emosi dan kehendak.
Sedangkan kepribadian, menurut La Haye, adalah ekspresi yang keluar dari diri kita, yang mungkin sama dengan watak kita atau mungkin juga tidak, bergantung pada ketulusan kita.
Sedangkan kepribadian, menurut La Haye, adalah ekspresi yang keluar dari diri kita, yang mungkin sama dengan watak kita atau mungkin juga tidak, bergantung pada ketulusan kita.
Di
dalam bidang kedokteran pada zaman Yunani kuno, Hippocrates telah melakukan suatu usaha penelitian di dalam
tipologi kepribadian. Ia menyimpulkan bahwa temperamen tergolong dalam empat
bagian (darah, flegma, empedu hitam atau melancholy, empedu kuning atau choler).
Sering kali kepribadian itu merupakan suatu topeng yang baik dari
watak yang buruk atau yang lemah. Banyak orang pada masa bertindak berdasarkan
apa yang menurut pikirannya patut dilakukan, bukan berdasarkan keadaan dirinya
yang sebenarnya. Inilah rumus dari kekacauan mental dan rohani. Hal ini terjadi
bila seseorang mengikuti rumus-rumus manusia tentang tingkah laku yang baik
itu, maka akibatnya ialah kekacauan mental dan rohani.
Tipe
Kepribadian
Perbedaan kepribadian atau tipe-tipe kepribadian yang melekat pada
setiap orang telah menarik perhatian para ahli sejak dahulu kala. Sebenarnya
penjelasan Alkitab mengenai tipe-tipe kepribadian ini telah ada jauh sebelum
penelitian ilmiah. Alkitab menjelaskan tentang perbedaan antara pria dan wanita
yang merupakan perbedaan tipe kepribadian yang sangat jelas. Perkembangan
selanjutnya memberikan kepada kita suatu penguraian yang lebih terperinci
mengenai tipe-tipe kepribadian orang.
Di dalam bidang kedokteran pada zaman Yunani kuno, Hippocrates telah melakukan suatu usaha penelitian di dalam tipologi kepribadian. Ia menyimpulkan bahwa temperamen (darah, flegma, empedu hitam, empedu kuning) manusia diciptakan dengan temperanen yang unik, beberapa ahli mengelompokkan temperamen menjadi empat, yaitu sanguin, koterik, plagmatis, dan malankolis. Manusia juga memiliki sifat-sifat yang beragam. Ada yang introvert, ekstrover, aktif, pasif, cenderung pemarah dan ada juga cenderung pendiam. Temperamen bersumber dari kepribadian kita yang disebut "di bawah sadar", bagian yang tidak dapat kita selami dengan akal budi dan kurang dapat dikuasai oleh kehendak. Temperamen bekerja secara otomatis dan selalu memberi kesan-kesan dalam kehidupan jiwa atas apa yang diterimanya dari lingkungan. Namun demikian, kita tetap bisa mengambil keputusan untuk mengubah atau melepaskan diri kita dari batasan-batasan temperamen. Asalkan ada kemauan untuk intropeksi diri dan melakuka perubahan kearah yang benar, manusia akan lebih secara sifat, temperamen dan karakter apabila menyerahkan diri kepada Tuhan.
Di dalam bidang kedokteran pada zaman Yunani kuno, Hippocrates telah melakukan suatu usaha penelitian di dalam tipologi kepribadian. Ia menyimpulkan bahwa temperamen (darah, flegma, empedu hitam, empedu kuning) manusia diciptakan dengan temperanen yang unik, beberapa ahli mengelompokkan temperamen menjadi empat, yaitu sanguin, koterik, plagmatis, dan malankolis. Manusia juga memiliki sifat-sifat yang beragam. Ada yang introvert, ekstrover, aktif, pasif, cenderung pemarah dan ada juga cenderung pendiam. Temperamen bersumber dari kepribadian kita yang disebut "di bawah sadar", bagian yang tidak dapat kita selami dengan akal budi dan kurang dapat dikuasai oleh kehendak. Temperamen bekerja secara otomatis dan selalu memberi kesan-kesan dalam kehidupan jiwa atas apa yang diterimanya dari lingkungan. Namun demikian, kita tetap bisa mengambil keputusan untuk mengubah atau melepaskan diri kita dari batasan-batasan temperamen. Asalkan ada kemauan untuk intropeksi diri dan melakuka perubahan kearah yang benar, manusia akan lebih secara sifat, temperamen dan karakter apabila menyerahkan diri kepada Tuhan.
Temperamen yang di penuhi dengan roh kudus adalah temperamen yang
memiliki Sembilan buah roh, sehingga tidak memiliki kelemahan. Hal inilah yang
diinginkan oleh Allah, dan Sembilan buah roh ini dapat kita lihat dalam diri
Tuhan Yesus dan hanya Dia saja yang sanggup memilikinya. Selain itu juga hidup
yang di penuhi dengan Roh Kudus adalah
selalu menguji diri sendiri (kis. 20:28 dan 1 kor. 11:28), mengakui segala dosa
yang kita lakukan (1 yoh. 1:9), selalu serahkan diri kepada Tuhan (Rom.
6:11-13), meminta tuntutan Roh Kudus (luk. 11:13), percaya bahwa kita di penuhi
dengan Roh Kudus dan selalu mengucap syukur kepada Tuhan atas kepenuhan Roh
Kudus (Rom. 14:23 dan 1 tes. 5:18). Namun dari semuanya ini ada juga yang
melenyapkan atau memadamkan Roh Kudus yang ada dalam dirinya yaitu dengan
adanya ketakutan. Ketakutan memang merupakan hal yang umum, dimana Adam dan
Hawa sendiri takut ketika mendengar bunyi langkah Tuhan yang berjalan di dalam
taman Eden waktu itu. Yang menjadi penyebab ketakutan adalah: (1) karena
cirri-ciri temperamen, dimana temperamen melancholy dan phlegmatic cenderung
ragu-ragu dan takut, (2) pengalaman masa kanak-kanak, karena di masa kecil
selalu member perlidungan yang berlebihan dan oranh tua selalu membentak
anak-anak atau mendominasi anak-anak, (3) telah mengalami pengalaman yang
menggoncangkan jiwa, (4) selalu berpikir negative, dan lain sebagainya.
Temperamen Sanguin: temperamen yang dipengaruhi cairan darah yang
bersifat kaya, hangat, dan hidup atau tipe yang meluap-luap. Temperamen Melankolis (Melaina Chole, Yunani):
temperamen yang dipengaruhi cairan
empedu hitam. Oleh karenanya, temperamen ini bersifat gelap dan murung atau
tipe patah hati. Temperamen Kolerik
(Chole, Yunani): temperamen yang dipengaruhi cairan empedu kuning dan
bersifat lekas marah dan ganas atau tipe gerak cepat. Temperamen Flegmatis (Phlegma: Lendir, Yunani): temperamen yang bersifat dingin dan lamban.
Dari keseluruhan jenis-jenis temperamen di atas, penulis dapat mengetahui
kekuatan dan kelemahan masing-masing temperamen, adapun
kekelemahan-kelemahannya yang di simpulkan oleh Dr. Hallesby seperti: (1)sanguine
menyukai orang-orang dan kemudian melupakannya, (2) melancholy merasa kesa
dengan orang-orang dan tetap membiarkan mereka berbuat jahat, (3) choleric
memperalat oaring-orang untuk untuk kepentingannya sendiri dan tidak
memperdulikan mereka, dan (4) phlegmatic menyelidiki orang-orang dengan sikap
acuh seolah-olah sombong.
Dari buku ini tidak hanya kelemahan, namun ada juga kelebihannya,
yaitu dimana kita tahu bahwa memiliki temperamen apa atau tipe temperamen yang
mana. Sehingga buku ini sangat bermanfaat bagi siapa saja yang ingin mengetahui
tipe temperamen yang dimilikinya atu karakter dan sifatnya. Dan bagaimana Allah
Roh Kudus dapat memperkuat serta mengubah kepribadian dan sifat-sifat
seseorang.
Petunjuk-petunjuk untuk pembimbing rohani, dan bagaimana mendisiplin
seseorang sesuai dengan temperamennya yang menonjol. Sehingga secara
keseluruhan penulis dapat menyimpulkan bahwa temperamen seseorang akan berubah
dalam batas-batas tertentu di dalam setiap jangka hidupnya. Meski demikian,
temperamen yang diwarisinya itu tidak akan lenyap secara total. Tuhan
menciptakan manusia dengan temperamen yang berbeda-beda agar manusia bisa
saling melengkapi, menolong, dan mengimbangi. Di dalam Kristus temperamen kita
juga akan terus disempurnakan bagi kemuliaan Allah. Hal ini menjelaskan bahwa
temperamen dapat di ubah, karena temperamrn itu bersifat lama. Sehingga orang
yang yang mau menerima Yesus di dalam hidupnya, ia harus mulai dengan hidup
yang baru. Seperti firman Tuhan mengatakan “siapa yang adadi dalam Kristus,
maka ia salah ciptaan baru” 2 korintus 7:17.